Ku
Ucapkan Selamat Tinggal
Jam
dinding terus berdentang , rasa khawatir kian mengganggu. Entah kapan kah suami
ku akan pulang, waktu sudah menunjukkan pukul 1 malam tapi dia tak kunjung
memberi kabar dimana keberadaannya.
Perasaan
untuk berpikir macam-macam pun tak terelakkan lagi. “apakah suamiku sedang
bersama dengan perempuan lain?? Atau apakah suamiku mendapat musibah dalam
perjalanan pulang??” resahku dalam hati. Mata ini sebenarnya sudah tak tahan lagi untuk
menahan rasa kantuk tapi mengingat sang suami tercinta belum pulang membuat
hati ini tak karuan rasa. Berpuluh-puluh kali aku mencoba menghubunginya tapi
tidak pernah bisa nyambung. Kuhubungi teman-teman sekantornya tapi tak ada yang
tahu keberadaannya. Namun salah satu rekan kerjanya mengatakan melihat suamiku
terakhir kali dia bergegas masuk mobil dan langsung melesat entah kemana.
Hal
itulah yang membuatku terus berpikiran yang tidak-tidak. Tak terasa aku sudah
ditempat tidur, kupikir suamiku lah yang menggendongku kekamar karena aku tertidur di sofa depan.
Kucoba meraba kasur sisi kananku dan berharap ada suamiku disampingku. Betapa terkejutnya
aku!! Rasa dingin dan basah ditanganku membuatku langsung berbalik, ternyata
suamiku yang sedang mengigigil kedinginan. Bergegas kuambil handuk basah yang
sudah diperas lalu mengompresnya. Tak sempat ku bertanya kenapa dia jadi
terlambat pulang kerumah, yang kupikirkan hanyalah betapa khawatirnya aku
kepadanya melihat dia pulang kerumah dengan keadaan seperti itu.
“Istriku,
maaf sudah banyak merepotkanmu selama ini dan sungguh aku berterima kasih atas
kesetiaan dan kasih sayang yang kau dan anak-anak berikan padaku.” Kata suamiku
dengan bibir yang bergetar kedinginan.
Aku
tak mengerti kenapa suamiku tiba-tiba mengatakan hal semacam itu, apa dia ingin
meninggalkanku? Apa dia mempunyai suatu penyakit atau semacamnya? Sungguh
terlalu jika aku sampai tidak tahu kondisi suamiku sendiri. Pagi menjelang,
seperti biasa aku membuat sarapan untuk anak-anak dan suamiku dan bersiap untuk
mengantar anak-anak pergi sekolah. “Ayo Nabil, Bila, selesein dulu sarapan
kalian baru kita berangkat!!” Teriak ku seperti biasa pada anak-anak. Tidak
lupa aku berpamitan dengan suamiku, tapi saat itu melihat dia sedang tertidur
pulasnya membuatku tak tega untuk membangunkannya “Biarlah hari ini dia
istirahat dulu.” Senyumku sambil memandang suamiku yang sedang tidur. Anak-anak
pun ku larang hari itu untuk berpamitan dengannya.
Sesampai
disekolah tak lupa anak-anak mencium tangan dan kedua pipiku. Subhanallah,
segala puji bagi Allah yang telah memberikan rizki ini padaku, sungguh ku tak
kan menyia-nyiakan anugerah ini. Di sepanjang jalan aku singgah ke Apotek dekat
rumahku dan membeli obat penurun panas. Sesampai dirumah aku langsung pergi
kekamar dan betapa terkejutnya aku lagi!! Suamiku sudah tidak ada. Hati kesal
dan bercampur khawatir,” kemana lagi dia??? Lagi sakit kok malah pergi kerja??”
dongkolku.
Tapi
yang kuheran bukankah malam tadi tubuhnya basah, lalu kenapa dikasur sangat
rapi dan bersih. Aku tak terlalu memikirkannya dan melanjutkan aktivitasku
dirumah sebagai Ibu rumah tangga. Tak lupa pagi itu aku mengambil wudhu untuk
sholat dhuha, berharap Allah selalu
menjaga keluarga kami dengan Rizki dan Ridho-Nya.
Hari
sudah malam, tapi suamiku kembali tak pulang. Namun, kali ini dia pergi
berhari-hari. Ku coba kembali menghubungi teman-teman sekantornya tapi tak ada
yang mengetahuinya, mereka semua bilang bahwa suami tidak datang kekantor
selama beberapa hari ini. Sungguh membuatku bertanya-tanya,” kenapa bisa? Lalu
kemana dia pergi?” tanyaku dalam hati dengan penuh penasaran.
Tak
lepas anak-anakku pun mempertanyakan keberadaan Ayahnya, sudah berpuluh kali ku
pergi kerumah orang tua dan saudara-saudaranya tapi mereka malah memarahiku
karena mereka pikir aku adalah seorang istri yang tidak becus mengurus suaminya
sendiri. Ya maklum saja, dari awal hubungan kami memang tak direstui lantaran
latar belakangku yang terlahir dari keluarga yang biasa-biasa saja. Ibuku hanya
mempunyai kios bangunan kecil dan Ayahku hanyalah supir bajaj.
Aku
berusaha tabah dan terus berikhtiar kepada
sang Illahi untuk menemukan suamiku. Satu bulan sudah semenjak
kepergiannya. Kabar pun masih tak kudengar, namun tiba-tiba aku mendengar suara
ketukan dari pintu depan. “Permisi…!!!” berulang kali kata itu kudengar,
bergegaslah aku membukakan pintu berharap suamiku telah kembali kedekapanku dan
anak-anak. “Permisi Bu, apa betul ini rumah kediaman Bapak Wibowo?” , “Iya
betul pak.. bapak siapa dan dari mana yaa?”tanyaku heran.
Hati
ini sebenarnya sudah tak karuan rasa, tak ingin berharap mendengar kata-kata
yang menghancurkan hati ini. “Begini Bu, saya mendapat informasi dari
masyarakat desa Manarap, kalau mereka menemukan sesosok mayat yang mengapung di
pinggiran sungai dekat kumpulan pohon bakau dan mayat itu bernama Bapak Adjie
Wibowo.” Jelas pernyataan dari pak polisi tersebut.
“Innalillahi
wainna lillahi roji’un…” hanya kata itu yang bisa terucap dari bibirku, kaki
ini terasa begitu lemas tak sanggup untuk menopang tubuh dengan hati yang
terluka.
“Penantianku
selama ini, kesabaranku selama ini.. kenapa harus dia ya Allah ?” marahku dalam
hati yang hanya bisa menyalahkan sang Illahi. Sejenak ku terdiam kemudian
mengucapkan kata istigfar berpuluh kali memohon ampun kepada-Nya karena telah
menyalahkan takdir Tuhan.
Ternyata
pada saat hari dimana aku menunggunya
semalaman, dia memang tergesa-gesa pulang di karenakan ingin segera mengambil
hadiah pernikahan kami yang ke 10, Ya Allah betapa bodohnya aku! Aku sendiri
pun lupa akan tanggal pernikahan kami. dimalam suamiku datang sebenarnya dia
tidak ada, apakah itu roh nya yang ingin mengucapkan kata selamat tinggal?
Sungguh ku tak percaya akan kejadian malam itu. Aku merasa begitu yakin suamiku
ada disampingku dengan keadaan menggigil kedinginan, Allahualam sesungguhnya
hanya Allah lah yang Maha Kuasa lagi Maha Mengetahui.
#RA