Tuesday, April 9, 2013


Ku Ucapkan Selamat Tinggal


Jam dinding terus berdentang , rasa khawatir kian mengganggu. Entah kapan kah suami ku akan pulang, waktu sudah menunjukkan pukul 1 malam tapi dia tak kunjung memberi kabar dimana keberadaannya.
Perasaan untuk berpikir macam-macam pun tak terelakkan lagi. “apakah suamiku sedang bersama dengan perempuan lain?? Atau apakah suamiku mendapat musibah dalam perjalanan pulang??” resahku dalam hati.  Mata ini sebenarnya sudah tak tahan lagi untuk menahan rasa kantuk tapi mengingat sang suami tercinta belum pulang membuat hati ini tak karuan rasa. Berpuluh-puluh kali aku mencoba menghubunginya tapi tidak pernah bisa nyambung. Kuhubungi teman-teman sekantornya tapi tak ada yang tahu keberadaannya. Namun salah satu rekan kerjanya mengatakan melihat suamiku terakhir kali dia bergegas masuk mobil dan langsung melesat entah kemana.
Hal itulah yang membuatku terus berpikiran yang tidak-tidak. Tak terasa aku sudah ditempat tidur, kupikir suamiku lah yang menggendongku  kekamar karena aku tertidur di sofa depan. Kucoba meraba kasur sisi kananku dan berharap ada suamiku disampingku. Betapa terkejutnya aku!! Rasa dingin dan basah ditanganku membuatku langsung berbalik, ternyata suamiku yang sedang mengigigil kedinginan. Bergegas kuambil handuk basah yang sudah diperas lalu mengompresnya. Tak sempat ku bertanya kenapa dia jadi terlambat pulang kerumah, yang kupikirkan hanyalah betapa khawatirnya aku kepadanya melihat dia pulang kerumah dengan keadaan seperti itu.
“Istriku, maaf sudah banyak merepotkanmu selama ini dan sungguh aku berterima kasih atas kesetiaan dan kasih sayang yang kau dan anak-anak berikan padaku.” Kata suamiku dengan bibir yang bergetar kedinginan.
Aku tak mengerti kenapa suamiku tiba-tiba mengatakan hal semacam itu, apa dia ingin meninggalkanku? Apa dia mempunyai suatu penyakit atau semacamnya? Sungguh terlalu jika aku sampai tidak tahu kondisi suamiku sendiri. Pagi menjelang, seperti biasa aku membuat sarapan untuk anak-anak dan suamiku dan bersiap untuk mengantar anak-anak pergi sekolah. “Ayo Nabil, Bila, selesein dulu sarapan kalian baru kita berangkat!!” Teriak ku seperti biasa pada anak-anak. Tidak lupa aku berpamitan dengan suamiku, tapi saat itu melihat dia sedang tertidur pulasnya membuatku tak tega untuk membangunkannya “Biarlah hari ini dia istirahat dulu.” Senyumku sambil memandang suamiku yang sedang tidur. Anak-anak pun ku larang hari itu untuk berpamitan dengannya.
Sesampai disekolah tak lupa anak-anak mencium tangan dan kedua pipiku. Subhanallah, segala puji bagi Allah yang telah memberikan rizki ini padaku, sungguh ku tak kan menyia-nyiakan anugerah ini. Di sepanjang jalan aku singgah ke Apotek dekat rumahku dan membeli obat penurun panas. Sesampai dirumah aku langsung pergi kekamar dan betapa terkejutnya aku lagi!! Suamiku sudah tidak ada. Hati kesal dan bercampur khawatir,” kemana lagi dia??? Lagi sakit kok malah pergi kerja??” dongkolku.
Tapi yang kuheran bukankah malam tadi tubuhnya basah, lalu kenapa dikasur sangat rapi dan bersih. Aku tak terlalu memikirkannya dan melanjutkan aktivitasku dirumah sebagai Ibu rumah tangga. Tak lupa pagi itu aku mengambil wudhu untuk sholat  dhuha, berharap Allah selalu menjaga keluarga kami dengan Rizki dan Ridho-Nya.
Hari sudah malam, tapi suamiku kembali tak pulang. Namun, kali ini dia pergi berhari-hari. Ku coba kembali menghubungi teman-teman sekantornya tapi tak ada yang mengetahuinya, mereka semua bilang bahwa suami tidak datang kekantor selama beberapa hari ini. Sungguh membuatku bertanya-tanya,” kenapa bisa? Lalu kemana dia pergi?” tanyaku dalam hati dengan penuh penasaran.
Tak lepas anak-anakku pun mempertanyakan keberadaan Ayahnya, sudah berpuluh kali ku pergi kerumah orang tua dan saudara-saudaranya tapi mereka malah memarahiku karena mereka pikir aku adalah seorang istri yang tidak becus mengurus suaminya sendiri. Ya maklum saja, dari awal hubungan kami memang tak direstui lantaran latar belakangku yang terlahir dari keluarga yang biasa-biasa saja. Ibuku hanya mempunyai kios bangunan kecil dan Ayahku hanyalah supir bajaj.
Aku berusaha tabah dan terus berikhtiar kepada  sang Illahi untuk menemukan suamiku. Satu bulan sudah semenjak kepergiannya. Kabar pun masih tak kudengar, namun tiba-tiba aku mendengar suara ketukan dari pintu depan. “Permisi…!!!” berulang kali kata itu kudengar, bergegaslah aku membukakan pintu berharap suamiku telah kembali kedekapanku dan anak-anak. “Permisi Bu, apa betul ini rumah kediaman Bapak Wibowo?” , “Iya betul pak.. bapak siapa dan dari mana yaa?”tanyaku heran.
Hati ini sebenarnya sudah tak karuan rasa, tak ingin berharap mendengar kata-kata yang menghancurkan hati ini. “Begini Bu, saya mendapat informasi dari masyarakat desa Manarap, kalau mereka menemukan sesosok mayat yang mengapung di pinggiran sungai dekat kumpulan pohon bakau dan mayat itu bernama Bapak Adjie Wibowo.” Jelas pernyataan dari pak polisi tersebut.
“Innalillahi wainna lillahi roji’un…” hanya kata itu yang bisa terucap dari bibirku, kaki ini terasa begitu lemas tak sanggup untuk menopang tubuh dengan hati yang terluka.
“Penantianku selama ini, kesabaranku selama ini.. kenapa harus dia ya Allah ?” marahku dalam hati yang hanya bisa menyalahkan sang Illahi. Sejenak ku terdiam kemudian mengucapkan kata istigfar berpuluh kali memohon ampun kepada-Nya karena telah menyalahkan takdir Tuhan.
Ternyata pada saat  hari dimana aku menunggunya semalaman, dia memang tergesa-gesa pulang di karenakan ingin segera mengambil hadiah pernikahan kami yang ke 10, Ya Allah betapa bodohnya aku! Aku sendiri pun lupa akan tanggal pernikahan kami. dimalam suamiku datang sebenarnya dia tidak ada, apakah itu roh nya yang ingin mengucapkan kata selamat tinggal? Sungguh ku tak percaya akan kejadian malam itu. Aku merasa begitu yakin suamiku ada disampingku dengan keadaan menggigil kedinginan, Allahualam sesungguhnya hanya Allah lah yang Maha Kuasa lagi Maha Mengetahui.


 #RA